06.35
Substative Test
Prosedur pemeriksaan substantif persediaan, diantaranya:
1. Lakukan observasi hasil stock opname (perhitungan fisik) yang telah dilakukan klien.
2. Minta Final Inventory List (Inventory Compilation) dan lakukan prosedur pemeriksaan yang terdiri atas :
a. cek mathematical accuracy (penjumlahan dan perkalian)
b. cocokkan quantity per book dengan stock card
c. cocokkan quantity per count dengan count sheet milik auditor
d. cocokkan total value dengan buku besar persediaan
3. Kirimkan konfirmasi untuk persediaan consignment out. Biasanya barang konsinyasi jumlahnya tidak terlalu besar sehingga lebih praktis untuk mengirim konfirmasi dibandingkan menghitungnya sendiri. Selain itu, auditor juga bisa memeriksa bukti pengiriman barang konsinyasi tersebut.
4. Periksa unit price dari raw material, work in process, finished goods dan supplies.
Untuk raw materials dan supplies
Periksa faktur pembelian (supplier invoice) yang terakhir dan perhatikan apakah perusahaan menggunakan LIFO, FIFO, atau Average Cost.
Untuk barang impor, harus diperiksa bukti-bukti pembelian impor dan perhitungan landed cost-nya. Karena untuk barang impor, perusahaan harus membayar bea masuk, biaya-biaya untuk mengeluarkan barang dari pelabuhan, termasuk jasa Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) atau Ekspedisi Muatan Kapal Udara (EMKU).
Untuk Work in Process
Pelajari cost accounting procedures yang digunakan perusahaan, untuk mengetahui besarnya direct materials, direct labor, factory overhead yang sudah dibebankan termasuk persentase selesainya.
Jika perusahaan menggunakan job order costing, yang harus diperiksa adalah job order cost sheet-nya. Jika digunakan process costing, harus diperiksa bagaimana penentuan persentase selesainya dan nilai work in process-nya
Untuk Finished Goods
Pelajari cost accounting procesures dan periksa apakah perusahaan menggunakan standard cost, sehingga harus diperiksa perhitungan variance-nya.
Jika ada variance:
a. sebagian harus masuk harga pokok penjualan (cost of goods sold), yaitu untuk persediaan yang sudah terjual
b. sebagian menambah/ mengurangi nilai persediaan (tergantung favourable atau unfavourable variance), yaitu untuk persediaan yang belum terjual.
Selain itu harus diperiksa apakah unit price (harga perolehan per unit) lebih rendah atau lebih tinggi dari market price atau net realizable value (harga pasar)
Hal ini sesuai dengan metode lower of cost or market (mana yang lebih rendah antara harga perolehan dan harga pasar).
5. Lakukan rekonsiliasi antara saldo menurut stock opname dan saldo per tanggal laporan posisi keuangan jika stock opname dilakukan beberapa waktu sebelum/ sesudah tanggal laporan posisi keuangan. Cukup dalam arti tidak terlalu besar (menyebabkan laba terlalu kecil) dan tidak terlalu kecil (menyebabkan laba terlalu besar). Sehingga auditor harus memeriksa kebijakan dan cara perusahaan menentukan allowance, apakah konsisten dengan periode sebelumnya.
Salah satu cara yang biasa digunakan oleh perusahaan adalah:
Untuk barang yang tidak dipakai atau tidak terjual selama
3 bulan, allowance 10%
6 bulan, allowance 30%
9 bulan, allowance 50%
12 bulan, allowance 80%
lebih dari 12 bulan, allowance 100%
Untuk mengetahui waktu tidak dipakainya kembali atau tidak terjualnya persediaan, auditor harus memeriksa stock card. Selain itu, saat stock opname biasanya barang-barang yang rusak sudah dipisahkan dan dibuatkan daftarnya, yang bergerak lambat atau ketinggalan mode sudah berdebu karena lama tidak disentuh.
6. Periksa kecukupan allowance untuk barang rusak, bergerak lambat dan atau ketinggalan mode dengan memeriksa stock card serta memeriksa kebijakan dan cara perusahaan menentukan allowance.
7. Periksa kejadian sesudah tanggal laporan posisi keuangan (subsequent event) untuk mengetahui apakah ada penjualan fiktif yang dicatat untuk memperbesar jumlah laporan penjualan. Bila ada diawal periode berikutnya harus dibuat jurnal balik.
8. Periksa cut-off penjualan dan pembelian untuk meyakinkan jangan sampai ada pergeseran waktu dalam pencatatan penjualan dan pembelian. Sehingga tanggal dan nomor terakhir faktur penjualan, delivery order, faktur pembelian dan receiving report harus dicatat atau diminta salinannya. Syarat pengiriman barang pun harus diperhatikan.
9. Periksa jawaban konfirmasi dari bank, loan agreement (perjanjian kredit), dan notulen rapat (minutes of meeting), untuk mengetahui keberadaan persediaan yang dijaminkan. Jika ada, maka harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
10. Periksa apakah ada sales/ purchase commitment per tanggal laporan posisi keuangan. Jika ada dan menimbulkan kerugian yang material bagi perusahaan dalam periode berikutnya, maka harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan. Sehingga auditor harus memeriksa kontrak penjualan dan pembelian yang realisasinya akan dilakukan di periode berikutnya, dan memeriksa keberadaan penurunan harga beli atau harga jual di pasar (market value) di periode berikutnya.
11. Jika ada goods in transit, lakukan prosedur sebagai berikut:
a. minta rincian goods in transit per tanggal laporan posisi keuangan
b. periksa perhitungan matematikanya (penjumlahan dan perkalian)
c. periksa syarat pengiriman barang
d. periksa subsequent clearance (penyelesaian sesudah tanggal laporan posisi keuangan). Dalam hal ini auditor harus bertanya pada klien dan memeriksa laporan penerimaan barang (receiving report), apakah sesudah tanggal laporan posisi keuangan, barang dalam perjalanan tersebut sudah diterima. Jika sesudah tanggal laporan posisi keuangan sampai mendekati tanggal selesainya pemeriksaan lapangan, barang dalam perjalanan belum juga diterima, kemungkinan terjadi pembatalan pembelian atau kesalahan pencatatan.
Misalnya pada waktu dikirim purchase order dan dibayar uang muka pembelian dicatat:
Dr. Barang dalam Perjalanan IDR 10.000.000
Cr. Kas/ Bank IDR 1.000.000
Cr. Utang Dagang IDR 9.000.000
Pada saat barang diterima, seharusnya dicatat:
Dr. Persediaan IDR 10.000.000
cr. Barang dalam Perjalanan IDR 10.000.000
Tetapi oleh bagian akuntansi (karena kurang teliti dan tidak dicek dahulu) dicatat:
Dr. Persediaan IDR 10.000.000
Cr. Utang Dagang IDR 10.000.000
Sehingga, barang dalam perjalanan terus terlihat dalam buku besar dan laporan posisi keuangan sebesar IDR 10.000.000, padahal per tanggal laporan posisi keuangan barang sudah diterima. Karena itu, auditor harus mengusulkan audit adjustment sebagai berikut:
Dr. Utang Dagang IDR 10.000.000
Cr. Barang dalam Perjalanan IDR 10.000.000
12. Buat kesimpulan hasil audit persediaan dan usulan adjustment jika diperlukan. Kesimpulan biasanya ditulis di Top Schedule dan berisi pernyataan yang didasarkan prosedur pemeriksaan, apakah disajikan secara wajar atau tidak.
13. Periksa kesesuaian penyajian persediaan di laporan keuangan dengan prinsip SAK
1. Lakukan observasi hasil stock opname (perhitungan fisik) yang telah dilakukan klien.
2. Minta Final Inventory List (Inventory Compilation) dan lakukan prosedur pemeriksaan yang terdiri atas :
a. cek mathematical accuracy (penjumlahan dan perkalian)
b. cocokkan quantity per book dengan stock card
c. cocokkan quantity per count dengan count sheet milik auditor
d. cocokkan total value dengan buku besar persediaan
3. Kirimkan konfirmasi untuk persediaan consignment out. Biasanya barang konsinyasi jumlahnya tidak terlalu besar sehingga lebih praktis untuk mengirim konfirmasi dibandingkan menghitungnya sendiri. Selain itu, auditor juga bisa memeriksa bukti pengiriman barang konsinyasi tersebut.
4. Periksa unit price dari raw material, work in process, finished goods dan supplies.
Untuk raw materials dan supplies
Periksa faktur pembelian (supplier invoice) yang terakhir dan perhatikan apakah perusahaan menggunakan LIFO, FIFO, atau Average Cost.
Untuk barang impor, harus diperiksa bukti-bukti pembelian impor dan perhitungan landed cost-nya. Karena untuk barang impor, perusahaan harus membayar bea masuk, biaya-biaya untuk mengeluarkan barang dari pelabuhan, termasuk jasa Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) atau Ekspedisi Muatan Kapal Udara (EMKU).
Untuk Work in Process
Pelajari cost accounting procedures yang digunakan perusahaan, untuk mengetahui besarnya direct materials, direct labor, factory overhead yang sudah dibebankan termasuk persentase selesainya.
Jika perusahaan menggunakan job order costing, yang harus diperiksa adalah job order cost sheet-nya. Jika digunakan process costing, harus diperiksa bagaimana penentuan persentase selesainya dan nilai work in process-nya
Untuk Finished Goods
Pelajari cost accounting procesures dan periksa apakah perusahaan menggunakan standard cost, sehingga harus diperiksa perhitungan variance-nya.
Jika ada variance:
a. sebagian harus masuk harga pokok penjualan (cost of goods sold), yaitu untuk persediaan yang sudah terjual
b. sebagian menambah/ mengurangi nilai persediaan (tergantung favourable atau unfavourable variance), yaitu untuk persediaan yang belum terjual.
Selain itu harus diperiksa apakah unit price (harga perolehan per unit) lebih rendah atau lebih tinggi dari market price atau net realizable value (harga pasar)
Hal ini sesuai dengan metode lower of cost or market (mana yang lebih rendah antara harga perolehan dan harga pasar).
5. Lakukan rekonsiliasi antara saldo menurut stock opname dan saldo per tanggal laporan posisi keuangan jika stock opname dilakukan beberapa waktu sebelum/ sesudah tanggal laporan posisi keuangan. Cukup dalam arti tidak terlalu besar (menyebabkan laba terlalu kecil) dan tidak terlalu kecil (menyebabkan laba terlalu besar). Sehingga auditor harus memeriksa kebijakan dan cara perusahaan menentukan allowance, apakah konsisten dengan periode sebelumnya.
Salah satu cara yang biasa digunakan oleh perusahaan adalah:
Untuk barang yang tidak dipakai atau tidak terjual selama
3 bulan, allowance 10%
6 bulan, allowance 30%
9 bulan, allowance 50%
12 bulan, allowance 80%
lebih dari 12 bulan, allowance 100%
Untuk mengetahui waktu tidak dipakainya kembali atau tidak terjualnya persediaan, auditor harus memeriksa stock card. Selain itu, saat stock opname biasanya barang-barang yang rusak sudah dipisahkan dan dibuatkan daftarnya, yang bergerak lambat atau ketinggalan mode sudah berdebu karena lama tidak disentuh.
6. Periksa kecukupan allowance untuk barang rusak, bergerak lambat dan atau ketinggalan mode dengan memeriksa stock card serta memeriksa kebijakan dan cara perusahaan menentukan allowance.
7. Periksa kejadian sesudah tanggal laporan posisi keuangan (subsequent event) untuk mengetahui apakah ada penjualan fiktif yang dicatat untuk memperbesar jumlah laporan penjualan. Bila ada diawal periode berikutnya harus dibuat jurnal balik.
8. Periksa cut-off penjualan dan pembelian untuk meyakinkan jangan sampai ada pergeseran waktu dalam pencatatan penjualan dan pembelian. Sehingga tanggal dan nomor terakhir faktur penjualan, delivery order, faktur pembelian dan receiving report harus dicatat atau diminta salinannya. Syarat pengiriman barang pun harus diperhatikan.
9. Periksa jawaban konfirmasi dari bank, loan agreement (perjanjian kredit), dan notulen rapat (minutes of meeting), untuk mengetahui keberadaan persediaan yang dijaminkan. Jika ada, maka harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
10. Periksa apakah ada sales/ purchase commitment per tanggal laporan posisi keuangan. Jika ada dan menimbulkan kerugian yang material bagi perusahaan dalam periode berikutnya, maka harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan. Sehingga auditor harus memeriksa kontrak penjualan dan pembelian yang realisasinya akan dilakukan di periode berikutnya, dan memeriksa keberadaan penurunan harga beli atau harga jual di pasar (market value) di periode berikutnya.
11. Jika ada goods in transit, lakukan prosedur sebagai berikut:
a. minta rincian goods in transit per tanggal laporan posisi keuangan
b. periksa perhitungan matematikanya (penjumlahan dan perkalian)
c. periksa syarat pengiriman barang
d. periksa subsequent clearance (penyelesaian sesudah tanggal laporan posisi keuangan). Dalam hal ini auditor harus bertanya pada klien dan memeriksa laporan penerimaan barang (receiving report), apakah sesudah tanggal laporan posisi keuangan, barang dalam perjalanan tersebut sudah diterima. Jika sesudah tanggal laporan posisi keuangan sampai mendekati tanggal selesainya pemeriksaan lapangan, barang dalam perjalanan belum juga diterima, kemungkinan terjadi pembatalan pembelian atau kesalahan pencatatan.
Misalnya pada waktu dikirim purchase order dan dibayar uang muka pembelian dicatat:
Dr. Barang dalam Perjalanan IDR 10.000.000
Cr. Kas/ Bank IDR 1.000.000
Cr. Utang Dagang IDR 9.000.000
Pada saat barang diterima, seharusnya dicatat:
Dr. Persediaan IDR 10.000.000
cr. Barang dalam Perjalanan IDR 10.000.000
Tetapi oleh bagian akuntansi (karena kurang teliti dan tidak dicek dahulu) dicatat:
Dr. Persediaan IDR 10.000.000
Cr. Utang Dagang IDR 10.000.000
Sehingga, barang dalam perjalanan terus terlihat dalam buku besar dan laporan posisi keuangan sebesar IDR 10.000.000, padahal per tanggal laporan posisi keuangan barang sudah diterima. Karena itu, auditor harus mengusulkan audit adjustment sebagai berikut:
Dr. Utang Dagang IDR 10.000.000
Cr. Barang dalam Perjalanan IDR 10.000.000
12. Buat kesimpulan hasil audit persediaan dan usulan adjustment jika diperlukan. Kesimpulan biasanya ditulis di Top Schedule dan berisi pernyataan yang didasarkan prosedur pemeriksaan, apakah disajikan secara wajar atau tidak.
13. Periksa kesesuaian penyajian persediaan di laporan keuangan dengan prinsip SAK
Diberdayakan oleh Blogger.

