badge visit hainfo 1

Metode Penilaian Persediaan

Pada umumnya persediaan dinilai berdasarkan harga perolehan (acquisition cost), dalam hal ini bisa dipilih metode FIFO, LIFO atau Average Cost, baik moving average maupun weighted average.
Untuk barang-barang yang harga jualnya sudah pasti (logam mulia) atau cepat rusak (hasil pertanian seperti sayuran dan buah-buahan) bisa dinilai berdasarkan harga jual.
Dalam keadaan inflasi, penggunaan FIFO akan mengakibatkan harga pokok penjualan rendah dan laba kotor menjadi tinggi. Penggunaan LIFO akan menghasilkan laba kotor yang rendah. Penggunaan Average Cost akan menghasilkan laba kotor yang lebih kecil dibandingkan FIFO tapi lebih besar dibanding LIFO.
UU Pajak, tidak memperkenankan penggunaan metode LIFO, karena pajak yang terutang akan lebih kecil dibandingkan penggunaan FIFO dan Average Cost.
Untuk barang-barang yang usang, rusak atau bergerak lambat bisa diadakan penyisihan (allowance) sehingga sesuai dengan metode lower of cost market (mana yang lebih rendah antara harga perolehan dan harga pasar).

Physical/ Periodical Inventory System

Dalam physical/periodical system, saat pembelian, akun persediaan tidak didebit. Dan saat penjualan, akun persediaan tidak dikredit. Sehingga untuk mengetahui saldo persediaan di akhir periode, harus dilakukan stock opname.
Untuk memperkirakan saldo persediaan pada akhir bulan atau tanggal tertentu, bisa digunakan RETAIL INVENTORY METHOD atau GROSS PROFIT METHOD. Namun pada akhir tahun tetap harus dilakukan stock opname untuk mengetahui saldo persediaan yang benar-benar dimiliki perusahaan.
Jurnal dalam physical/periodical system:
Pembelian
Dr. Pembelian xx
Cr. Kas/Utang xx
Penjualan
Dr. Kas/Piutang xx
Cr. Penjualan xx
Physical system biasanya digunakan pada perusahaan yang jenis persediaannya banyak tetapi nilai persediaan per unitnya kecil. Misalnya toko bahan bangunan.

Perpetual Inventory System

Dalam perpetual system, setiap ada pembelian, akun persediaan akan didebit. Dan setiap ada penjualan, akun persediaan akan dikredit.
Jurnal dalam perpetual system :
Pembelian
Dr. Persediaan xx
Cr. Kas/Utang xx
Penjualan
Dr. Kas/Piutang xx
 Harga Pokok Penjualan xx
Cr. Penjualan xx
Persediaan xx
Perpetual system biasanya digunakan pada perusahaan yang jenis persediaannya tidak banyak tetapi nilai persediaan per unitnya besar. Misalnya dealer mobil dan toko emas.

Ancaman dalam Independensi

Ancaman dalam independensi dapat berbentuk :
a. Kepentingan diri (self-interest)
Kepentingan diri adalah wujud sifat yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau keluarga dibandingkan dengan kepentingan publik yang lebih luas.
Contoh ancaman untuk akuntan publik antara lain:
- kepentingan keuangan dalam perusahaan klien, atau kepentingan keuangan bersama pada suatu perusahaan klien
- kekhawatiran berlebihan bila kehilangan klien
Contoh ancaman untuk akuntan bisnis, antara lain:
- perjanjian kompensasi insentif
- penggunaan harta perusahaan yang tidak tepat
- tekanan komersial dari pihak di luar perusahaan

b. Review diri (self-review)
Contoh ancaman untuk akuntan publik
- temuan kesalahan material saat dilakukan evaluasi ulang
- pelaporan operasi sistem keuangan setelah terlibat dalam perancangan dan implementasi sistem tersebut
Contoh ancaman untuk akuntan bisnis
- keputusan bisnis/ data yang sedang ditinjau oleh akuntan profesional yang sama yang membuat keputusan bisnis/ penyiapan data tersebut

c. Advokasi (advocacy)
Ancaman advokasi dapat timbul jika akuntan profesional mendukung suatu posisi atau pendapat sampai titik dimana objektifitas dapat dikompromikan.
Contoh ancaman untuk akuntan publik:
- mempromosikan saham perusahaan publik dari klien, dimana perusahaan tersebut merupakan klien audit
- bertindak sebagai penasihat hukum/ pengacara klien penjaminan dalam suatu litigasi/ perkara perselisihan dengan pihak ketiga

d. Kekerabatan (familiarity)
Ancaman kekerabatan timbul dari kedekatan hubungan sehingga akuntan profesional menjadi terlalu bersimpati terhadap kepentingan orang lain yang mempunyai hubungan dekat dengan akuntan tersebut.
Contoh ancaman untuk akuntan publik, antara lain:
- anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang direktur atau pejabat perusahaan klien
- anggota tim mempunyai hubungan keluarga dekat dengan seorang karyawan klien yang memiliki jabatan yang berpengaruh langsung dan signifikan terhadap pokok dari penugasan
Contoh ancaman untuk akuntan bisnis
- hubungan yang lama dengan rekan bisnis yang mempunyai pengaruh pada keputusan bisnis
- penerimaan hadiah atau perlakuan khusus, kecuali nilainya tidak signifikan

e. Intimidasi (Intimidation)
Ancaman intimidasi dapat timbul jika akuntan profesional dihalangi untuk bertindak objektif, baik secara nyata maupun dipersepsikan.
Contoh untuk akuntan publik:
- diancam dipecat/ diganti dalam hubungannya dengan penugasan klien
- diancam dengan tuntutan hukum
- ditekan secara tidak wajar untuk mengurangi ruang lingkup pekerjaan dengan maksud untuk mengurangi fee
Contoh ancaman untuk akuntan bisnis
- ancaman pemecatan akuntan profesional dalam bisnis atau anggota keluarga dekat atas ketidaksetujuan penerapan prinsip akuntansi atau cara penerapannya
- seseorang yang mempunyai kepribadian yang dominan berusaha memengaruhi proses pengambilan keputusan

Independensi

Independensi terdiri atas dua jenis, yaitu independensi dalam fakta (independence in fact) atau independensi dalam pikiran (independence in mind) dan independensi dalam penampilan (independence in appearance). Prinsip fundamental etika ini tidak dapat dinegosiasikan atau dikompromikan bila seorang akuntan ingin menjaga citra profesinya yang luhur.

Independensi dalam Penampilan

Independensi dalam penampilan adalah penghindaran fakta dan kondisi yang sedemikian signifikan sehingga pihak ketiga yang paham dan berpikir rasional, dengan memiliki pengetahuan akan semua informasi yang relevan, termasuk pencegahan yang diterapkan, akan tetap dapat menarik kesimpulan bahwa skeptisme profesional, objektifitas, dan integritas anggota firma atau tim penjaminan (assurance team) telah dikompromikan.

Independensi dalam Pemikiran

Independensi dalam pikiran adalah suatu keadaan pikiran yang memungkinkan pengungkapan suatu kesimpulan tanpa terkena pengaruh yang dapat mengompromikan penilaian profesional, memungkinkan seorang individu bertindak berdasarkan integritas, serta menerapkan objektifitas dan skeptisme profesional.

Persediaan

Menurut SAK (PSAK No.14, hal 14.1 s/d 14.2 & 14.9 - IAI, 2002) persediaan adalah aset :
a. yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
b. dalam proses produksi dan atau perjalanan, atau
c. dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses atau pemberian jasa.
Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali, misalnya barang dagang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali.
Persediaan juga mencakup barang jadi yang telah diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi perusahaan, dan termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi.
Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai.
Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi, mana yang lebih rendah (the lower of cost and net realizable value).
Persediaan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a. biasanya merupakan aset lancar (current assets) karena masa perputarannya kurang atau sama dengan satu tahun.
b. merupakan jumlah yang besar, terutama dalam perusahaan dagang dan industri.
c. mempunyai pengaruh yang besar terhadap neraca dan perhitungan laba rugi, karena kesalahan dalam menentukan persediaan pada akhir periode akan mengakibatkan kesalahan dalam jumlah aset lancar dan total aset, harga pokok penjualan, laba kotor dan laba bersih, taksiran pajak penghasilan, pembagian dividen dan laba rugi ditahan, kesalahan tersebut akan terbawa ke laporan keuangan periode berikutnya.
Contoh nama akun persediaan diantaranya:
a. bahan baku (raw materials)
b. barang dalam proses ( work in process)
c. barang jadi (finished goods)
d. suku cadang (spare-parts)
e. bahan pembantu: oli, bensin, solar
f. barang dalam perjalanan (goods in transit)
g. barang konsinyasi (consignment out dan consignment in)

Tujuan Audit Persediaan

1. Memeriksa internal control atas persediaan.Jika internal control atas perolehan, penyimpanan dan pengeluaran persediaan berjalan efektif, maka luasnya pemeriksaan dalam melakukan substantive test atas persediaan dapat dipersempit.
Ciri internal control yang baik, diantaranya:
a. adanya segregation of duties (pemisahan tugas dan tanggung jawab) antara bagian pembelian, penerimaan barang, gudang, akuntansi dan keuangan.
b. digunakannya FORMULIR-FORMULIR yang prenumbered (bernomor urut tercetak).
c. untuk pembelian dalam jumlah besar dilakukan melalui TENDER.
d. ada sistem otorisasi, baik untuk pembelian, penjualan, penerimaan kas/bank, maupun pengeluaran kas/bank.
e. digunakannya ANGGARAN (BUDGET) untuk pembelian, produksi, penjualan, dan penerimaan serta pengeluaran kas.
f. pemesanan barang dilakukan dengan memperhitungkan ECONOMIC ORDER QUANTITY dan IRON STOCK.
g. dilakukannya PERPETUAL INVENTORY SYSTEM dan STOCK CARD, terutama di perusahaan yang nilai persediaan per jenisnya cukup material.

2. Mencocokan kebenaran data persediaan dalam Laporan Posisi Keuangan dengan persediaan yang ada dan dimiliki perusahaan, termasuk barang dalam perjalanan dan barang CONSIGNMENT OUT.

3. Memeriksa kesesuaian METODE PENILAIAN PERSEDIAAN yang digunakan dengan prinsip SAK.

4. Memeriksa kesesuaian SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN yang digunakan dengan prinsip SAK.

5. Memeriksa kecukupan allowance yang dibuat untuk barang rusak (defective), bergerak lambat (slow moving), dan ketinggalan mode (absolescence).Barang-barang tersebut diatas tidak mungkin lagi dijual dengan harga normal. Sehingga harus dijual dengan HARGA OBRAL yang umumnya lebih rendah dari harga perolehannya. Karena itu harus dibuat ALLOWANCE dalam jumlah yang cukup, dalam arti tidak terlalu kecil (karena akan mengakibatkan laba terlalu besar) dan tidak terlalu besar (karena akan mengakibatkan laba terlalu kecil).

6. Mengetahui keberadaan persediaan yang dijadikan JAMINAN KREDIT. Salah satu bentuk barang jaminan dari kredit yang diperoleh dari bank adalah persediaan. Jika ada persediaan yang dijaminkan, maka persediaan tersebut harus diungkapkan (di disclose) dalam Catatan atas Laporan Keuangan (Notes to Financial Statements)

7. Memeriksa kecukupan nilai pertanggungan persediaan yang diASURANSIkan. Persediaan harus diasuransikan, sehingga seandainya terjadi kebakaran, bisa diperoleh ganti rugi dari perusahaan asuransi dan perusahaan bisa terhindar dari kerugian karena kebakaran tersebut. Yang harus diperhatikan, adalah jika perusahaan mengasuransikan persediaan dengan INSURANCE COVERAGE yang terlalu besar, terutama dalam keadaan bisnis yang lesu, mungkin perusahaan bermaksud membakar persediaanya agar mendapat keuntungan dari ganti rugi perusahaan asuransi.

8. Mengetahui keberadaan perjanjian pembelian/penjualan persediaan (purchase/sales commitment) yang mempunyai pengaruh besar terhadap laporan keuangan. Jika ada maka harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Misalnya pada 24 November 2012, perusahaan menandatangani kontrak penjualan dengan salah satu pelanggannya untuk menjual 10.000 unit barang X dengan harga IDR 100.000 per unit, penyerahan barang akan dilakukan pada 13 Februari 2013. Ternyata di bulan Februari 2013 harga pasar barang X meningkat menjadi IDR 130.000. Karena sudah ada commitment, maka perusahaan mau tidak mau harus tetap menjual barang tersebut ke pelanggannya sebanyak 10.000 unit dengan harga sesuai kontrak, yaitu IDR 100.000 per unit.

9. Memeriksa kesesuaian penyajian persediaan dalam laporan keuangan dengan prinsip SAK.

Stock Opname

Stock opname dilakukan untuk persediaan yang berada di gudang perusahaan. Untuk barang-barang consignment out dan barang-barang yang tersimpan di public warehouse, jika jumlahnya material harus dilakukan stock opname, jika tidak material, cukup dikirim konfirmasi.
Untuk perusahaan yang internal controlnya lemah, stock opname sebaiknya dilakukan pada tanggal laporan posisi keuangan. Untuk perusahaan yang internal controlnya baik, stock opname bisa dilakukan beberapa waktu sebelum/ sesudah tanggal laporan posisi keuangan. Namun sebaiknya tidak terlalu jauh dari tanggal laporan posisi keuangan, untuk memudahkan auditor pada waktu melakukan trace backward/ trace forward (rekonsiliasi saldo per tanggal stock opname dengan per tanggal laporan posisi keuangan).
Contoh trace forward di Perusahaan Dagang :
Saldo persediaan per tanggal
Stock opname 30-11-2012...                       IDR 150.000.000
Pembelian 1-12-2012 s/d 31-12-2012...      IDR 350.000.000
Penjualan 1-12-2012 s/d 31-12-2012...       IDR (430.000.000)
Saldo persediaan per 31-12-2012...             IDR 70.000.000

Ada beberapa hal yang harus dilakukan auditor sebelum pelaksanaan stock opname, diantaranya:
a. Dapatkan dan pelajari Petunjuk Pelaksanaan Stock Opname (Physical Inventory Instruction) yang dibuat oleh perusahaan, dimana biasanya telah mencakup :
- pengaturan tim/ petugas stock opname
- tanggal pelaksanaan stock opname
- lokasi dan denah gudang
- pembatasan seminimal mungkin keluar masuknya barang pada waktu pelaksanaan stock opname
- prosedur cut-off, yaitu mencatat nomor dan tanggal terakhir dari receiving report dan issuing report/ shipping report
- penggunaan bin tag untuk mencatat hasil perhitungan, yang sebelumnya ditempelkan di setiap jenis barang. Bin-tag tersebut mencantumkan nama dan jenis barang, nomor kode barang, satuan dan jumlah unit, dan diberi nomor urut tercetak (prenumbered)
Jika auditor menganggap physical inventory instruction yang dimiliki perusahaan lemah, ia harus menyarankan klien untuk melengkapinya.
b. Lakukan peninjauan gudang sebelum stock opname dilakukan, untuk mendapat gambaran mengenai lokasi gudang dan apakah barang-barang di gudang telah disusun rapi menurut jenis dan kelompoknya. Jika ditemukan barang-barang masih tercampur antara jenis yang satu dengan jenis yang lainnya, auditor bisa meminta klien untuk merapikan penyusunan barang-barang tersebut terlebih dahulu dan menunda pelaksanaan stock opname, agar hasil perhitungan yang diperoleh akurat.
c. Siapkan tim audit yang akan ditugaskan untuk melakukan observasi atas pelaksanaan stock opname yang dilakukan klien, beserta perlengkapan yang dibutuhkan. Misalnya lokasi gudang/ persediaan terletak di tengah hutan (perusahaan kayu), tentunya harus menyiapkan obat anti malaria (pil kina), membawa sepatu karet, dan lain-lain.

Sewaktu pelaksanaan observasi stock opname, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya :
a. Di hari pertama harus diberikan penjelasan (briefing) kepada para pelaksana stock opname mengenai cara-cara stock opname, dipimpin oleh penanggung jawab stock opname dan dihadiri tim auditor
b. Saat stock opname dilakukan, klien harus menghitung 100%, sedangkan auditor mengamati apakah perhitungan sudah dilakukan sesuai dengan physical invemtory instruction agar hasilnya betul-betul akurat.
Saat mengamati, auditor ikut menghitung bersama-sama klien dan mencatatnya dalam inventory count sheet.
d. Selesai pelaksanaan stock opname, auditor harus membuat laporan/ memo mengenai pelaksanaan stock opname dan hasil observasi auditor. Memo tersebut harus mencakup kesimpulan auditor apakah stock opname sudah dilakukan sesuai dengan physical inventory instruction dan hasilnya akurat dan bisa dipercaya

Prosedur Audit Persediaan

Prosedur audit persediaan yang disarankan dibagi atas prosedur compliance test, analytical review dan substantive test.
Dalam prakteknya, prosedur audit harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan yang diaudit.
Prosedur audit persediaan mencakup pembelian, penyimpanan, pemakaian dan penjualan persediaan, karena berkaitan dengan siklus pembelian, utang dan pengeluaran kas serta siklus penjualan, piutang dan penerimaan kas.

Compliance Test

Prosedur Pemeriksaan untuk Compliance Test, diantaranya:
1. Pelajari dan evaluasi internal control persediaan.
a. Biasanya menggunakan Internal Control Questionarries.
b. Lakukan tes transaksi pembelian persediaan dengan purchase order sebagai sample. Untuk tes transaksi pemakaian persediaan (bahan baku) bisa digunakan material requisition sebagai sample. Untuk tes transaksi atas penjualan, bisa digunakan faktur penjualan sebagai sample.
2. Tarik kesimpulan mengenai internal control persediaan. Jika dalam tes transaksi tidak ada kesalahan yang berarti, maka internal control persediaan berjalan efektif. Sehingga substantive test persediaan bisa dipersempit.

Substative Test

Prosedur pemeriksaan substantif persediaan, diantaranya:
1. Lakukan observasi hasil stock opname (perhitungan fisik) yang telah dilakukan klien.

2. Minta Final Inventory List (Inventory Compilation) dan lakukan prosedur pemeriksaan yang terdiri atas :
a. cek mathematical accuracy (penjumlahan dan perkalian)
b. cocokkan quantity per book dengan stock card
c. cocokkan quantity per count dengan count sheet milik auditor
d. cocokkan total value dengan buku besar persediaan

3. Kirimkan konfirmasi untuk persediaan consignment out. Biasanya barang konsinyasi jumlahnya tidak terlalu besar sehingga lebih praktis untuk mengirim konfirmasi dibandingkan menghitungnya sendiri. Selain itu, auditor juga bisa memeriksa bukti pengiriman barang konsinyasi tersebut.

4. Periksa unit price dari raw material, work in process, finished goods dan supplies.
Untuk raw materials dan supplies
Periksa faktur pembelian (supplier invoice) yang terakhir dan perhatikan apakah perusahaan menggunakan LIFO, FIFO, atau Average Cost.
Untuk barang impor, harus diperiksa bukti-bukti pembelian impor dan perhitungan landed cost-nya. Karena untuk barang impor, perusahaan harus membayar bea masuk, biaya-biaya untuk mengeluarkan barang dari pelabuhan, termasuk jasa Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) atau Ekspedisi Muatan Kapal Udara (EMKU).
Untuk Work in Process
Pelajari cost accounting procedures yang digunakan perusahaan, untuk mengetahui besarnya direct materials, direct labor, factory overhead yang sudah dibebankan termasuk persentase selesainya.
Jika perusahaan menggunakan job order costing, yang harus diperiksa adalah job order cost sheet-nya. Jika digunakan process costing, harus diperiksa bagaimana penentuan persentase selesainya dan nilai work in process-nya
Untuk Finished Goods
Pelajari cost accounting procesures dan periksa apakah perusahaan menggunakan standard cost, sehingga harus diperiksa perhitungan variance-nya.
Jika ada variance:
a. sebagian harus masuk harga pokok penjualan (cost of goods sold), yaitu untuk persediaan yang sudah terjual
b. sebagian menambah/ mengurangi nilai persediaan (tergantung favourable atau unfavourable variance), yaitu untuk persediaan yang belum terjual.
Selain itu harus diperiksa apakah unit price (harga perolehan per unit) lebih rendah atau lebih tinggi dari market price atau net realizable value (harga pasar)
Hal ini sesuai dengan metode lower of cost or market (mana yang lebih rendah antara harga perolehan dan harga pasar).

5. Lakukan rekonsiliasi antara saldo menurut stock opname dan saldo per tanggal laporan posisi keuangan jika stock opname dilakukan beberapa waktu sebelum/ sesudah tanggal laporan posisi keuangan. Cukup dalam arti tidak terlalu besar (menyebabkan laba terlalu kecil) dan tidak terlalu kecil (menyebabkan laba terlalu besar). Sehingga auditor harus memeriksa kebijakan dan cara perusahaan menentukan allowance, apakah konsisten dengan periode sebelumnya.
Salah satu cara yang biasa digunakan oleh perusahaan adalah:
Untuk barang yang tidak dipakai atau tidak terjual selama
3 bulan, allowance 10%
6 bulan, allowance 30%
9 bulan, allowance 50%
12 bulan, allowance 80%
lebih dari 12 bulan, allowance 100%
Untuk mengetahui waktu tidak dipakainya kembali atau tidak terjualnya persediaan, auditor harus memeriksa stock card. Selain itu, saat stock opname biasanya barang-barang yang rusak sudah dipisahkan dan dibuatkan daftarnya, yang bergerak lambat atau ketinggalan mode sudah berdebu karena lama tidak disentuh.

6. Periksa kecukupan allowance untuk barang rusak, bergerak lambat dan atau ketinggalan mode dengan memeriksa stock card serta memeriksa kebijakan dan cara perusahaan menentukan allowance.

7. Periksa kejadian sesudah tanggal laporan posisi keuangan (subsequent event) untuk mengetahui apakah ada penjualan fiktif yang dicatat untuk memperbesar jumlah laporan penjualan. Bila ada diawal periode berikutnya harus dibuat jurnal balik.

8. Periksa cut-off penjualan dan pembelian untuk meyakinkan jangan sampai ada pergeseran waktu dalam pencatatan penjualan dan pembelian. Sehingga tanggal dan nomor terakhir faktur penjualan, delivery order, faktur pembelian dan receiving report harus dicatat atau diminta salinannya. Syarat pengiriman barang pun harus diperhatikan.

9. Periksa jawaban konfirmasi dari bank, loan agreement (perjanjian kredit), dan notulen rapat (minutes of meeting), untuk mengetahui keberadaan persediaan yang dijaminkan. Jika ada, maka harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

10. Periksa apakah ada sales/ purchase commitment per tanggal laporan posisi keuangan. Jika ada dan menimbulkan kerugian yang material bagi perusahaan dalam periode berikutnya, maka harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan. Sehingga auditor harus memeriksa kontrak penjualan dan pembelian yang realisasinya akan dilakukan di periode berikutnya, dan memeriksa keberadaan penurunan harga beli atau harga jual di pasar (market value) di periode berikutnya.

11. Jika ada goods in transit, lakukan prosedur sebagai berikut:
a. minta rincian goods in transit per tanggal laporan posisi keuangan
b. periksa perhitungan matematikanya (penjumlahan dan perkalian)
c. periksa syarat pengiriman barang
d. periksa subsequent clearance (penyelesaian sesudah tanggal laporan posisi keuangan). Dalam hal ini auditor harus bertanya pada klien dan memeriksa laporan penerimaan barang (receiving report), apakah sesudah tanggal laporan posisi keuangan, barang dalam perjalanan tersebut sudah diterima. Jika sesudah tanggal laporan posisi keuangan sampai mendekati tanggal selesainya pemeriksaan lapangan, barang dalam perjalanan belum juga diterima, kemungkinan terjadi pembatalan pembelian atau kesalahan pencatatan.
Misalnya pada waktu dikirim purchase order dan dibayar uang muka pembelian dicatat:
Dr. Barang dalam Perjalanan IDR 10.000.000
Cr. Kas/ Bank IDR 1.000.000
Cr. Utang Dagang IDR 9.000.000
Pada saat barang diterima, seharusnya dicatat:
Dr. Persediaan IDR 10.000.000
cr. Barang dalam Perjalanan IDR 10.000.000
Tetapi oleh bagian akuntansi (karena kurang teliti dan tidak dicek dahulu) dicatat:
Dr. Persediaan IDR 10.000.000
Cr. Utang Dagang IDR 10.000.000
Sehingga, barang dalam perjalanan terus terlihat dalam buku besar dan laporan posisi keuangan sebesar IDR 10.000.000, padahal per tanggal laporan posisi keuangan barang sudah diterima. Karena itu, auditor harus mengusulkan audit adjustment sebagai berikut:
Dr. Utang Dagang IDR 10.000.000
Cr. Barang dalam Perjalanan IDR 10.000.000

12. Buat kesimpulan hasil audit persediaan dan usulan adjustment jika diperlukan. Kesimpulan biasanya ditulis di Top Schedule dan berisi pernyataan yang didasarkan prosedur pemeriksaan, apakah disajikan secara wajar atau tidak.

13. Periksa kesesuaian penyajian persediaan di laporan keuangan dengan prinsip SAK

Consignment Out

Consignment out adalah barang perusahaan yang dititip jual pada perusahaan lain.

Consignment In

Consignment in adalah barang perusahaan lain yang dititip jual di perusahaan. Barang ini tidak boleh dilaporkan/dicatat sebagai persediaan perusahaan.

Diberdayakan oleh Blogger.