06.48
Tujuan Audit Persediaan
1. Memeriksa internal control atas persediaan.Jika internal control atas perolehan, penyimpanan dan pengeluaran persediaan berjalan efektif, maka luasnya pemeriksaan dalam melakukan substantive test atas persediaan dapat dipersempit.
Ciri internal control yang baik, diantaranya:
a. adanya segregation of duties (pemisahan tugas dan tanggung jawab) antara bagian pembelian, penerimaan barang, gudang, akuntansi dan keuangan.
b. digunakannya FORMULIR-FORMULIR yang prenumbered (bernomor urut tercetak).
c. untuk pembelian dalam jumlah besar dilakukan melalui TENDER.
d. ada sistem otorisasi, baik untuk pembelian, penjualan, penerimaan kas/bank, maupun pengeluaran kas/bank.
e. digunakannya ANGGARAN (BUDGET) untuk pembelian, produksi, penjualan, dan penerimaan serta pengeluaran kas.
f. pemesanan barang dilakukan dengan memperhitungkan ECONOMIC ORDER QUANTITY dan IRON STOCK.
g. dilakukannya PERPETUAL INVENTORY SYSTEM dan STOCK CARD, terutama di perusahaan yang nilai persediaan per jenisnya cukup material.
2. Mencocokan kebenaran data persediaan dalam Laporan Posisi Keuangan dengan persediaan yang ada dan dimiliki perusahaan, termasuk barang dalam perjalanan dan barang CONSIGNMENT OUT.
3. Memeriksa kesesuaian METODE PENILAIAN PERSEDIAAN yang digunakan dengan prinsip SAK.
4. Memeriksa kesesuaian SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN yang digunakan dengan prinsip SAK.
5. Memeriksa kecukupan allowance yang dibuat untuk barang rusak (defective), bergerak lambat (slow moving), dan ketinggalan mode (absolescence).Barang-barang tersebut diatas tidak mungkin lagi dijual dengan harga normal. Sehingga harus dijual dengan HARGA OBRAL yang umumnya lebih rendah dari harga perolehannya. Karena itu harus dibuat ALLOWANCE dalam jumlah yang cukup, dalam arti tidak terlalu kecil (karena akan mengakibatkan laba terlalu besar) dan tidak terlalu besar (karena akan mengakibatkan laba terlalu kecil).
6. Mengetahui keberadaan persediaan yang dijadikan JAMINAN KREDIT. Salah satu bentuk barang jaminan dari kredit yang diperoleh dari bank adalah persediaan. Jika ada persediaan yang dijaminkan, maka persediaan tersebut harus diungkapkan (di disclose) dalam Catatan atas Laporan Keuangan (Notes to Financial Statements)
7. Memeriksa kecukupan nilai pertanggungan persediaan yang diASURANSIkan. Persediaan harus diasuransikan, sehingga seandainya terjadi kebakaran, bisa diperoleh ganti rugi dari perusahaan asuransi dan perusahaan bisa terhindar dari kerugian karena kebakaran tersebut. Yang harus diperhatikan, adalah jika perusahaan mengasuransikan persediaan dengan INSURANCE COVERAGE yang terlalu besar, terutama dalam keadaan bisnis yang lesu, mungkin perusahaan bermaksud membakar persediaanya agar mendapat keuntungan dari ganti rugi perusahaan asuransi.
8. Mengetahui keberadaan perjanjian pembelian/penjualan persediaan (purchase/sales commitment) yang mempunyai pengaruh besar terhadap laporan keuangan. Jika ada maka harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Misalnya pada 24 November 2012, perusahaan menandatangani kontrak penjualan dengan salah satu pelanggannya untuk menjual 10.000 unit barang X dengan harga IDR 100.000 per unit, penyerahan barang akan dilakukan pada 13 Februari 2013. Ternyata di bulan Februari 2013 harga pasar barang X meningkat menjadi IDR 130.000. Karena sudah ada commitment, maka perusahaan mau tidak mau harus tetap menjual barang tersebut ke pelanggannya sebanyak 10.000 unit dengan harga sesuai kontrak, yaitu IDR 100.000 per unit.
9. Memeriksa kesesuaian penyajian persediaan dalam laporan keuangan dengan prinsip SAK.
Ciri internal control yang baik, diantaranya:
a. adanya segregation of duties (pemisahan tugas dan tanggung jawab) antara bagian pembelian, penerimaan barang, gudang, akuntansi dan keuangan.
b. digunakannya FORMULIR-FORMULIR yang prenumbered (bernomor urut tercetak).
c. untuk pembelian dalam jumlah besar dilakukan melalui TENDER.
d. ada sistem otorisasi, baik untuk pembelian, penjualan, penerimaan kas/bank, maupun pengeluaran kas/bank.
e. digunakannya ANGGARAN (BUDGET) untuk pembelian, produksi, penjualan, dan penerimaan serta pengeluaran kas.
f. pemesanan barang dilakukan dengan memperhitungkan ECONOMIC ORDER QUANTITY dan IRON STOCK.
g. dilakukannya PERPETUAL INVENTORY SYSTEM dan STOCK CARD, terutama di perusahaan yang nilai persediaan per jenisnya cukup material.
2. Mencocokan kebenaran data persediaan dalam Laporan Posisi Keuangan dengan persediaan yang ada dan dimiliki perusahaan, termasuk barang dalam perjalanan dan barang CONSIGNMENT OUT.
3. Memeriksa kesesuaian METODE PENILAIAN PERSEDIAAN yang digunakan dengan prinsip SAK.
4. Memeriksa kesesuaian SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN yang digunakan dengan prinsip SAK.
5. Memeriksa kecukupan allowance yang dibuat untuk barang rusak (defective), bergerak lambat (slow moving), dan ketinggalan mode (absolescence).Barang-barang tersebut diatas tidak mungkin lagi dijual dengan harga normal. Sehingga harus dijual dengan HARGA OBRAL yang umumnya lebih rendah dari harga perolehannya. Karena itu harus dibuat ALLOWANCE dalam jumlah yang cukup, dalam arti tidak terlalu kecil (karena akan mengakibatkan laba terlalu besar) dan tidak terlalu besar (karena akan mengakibatkan laba terlalu kecil).
6. Mengetahui keberadaan persediaan yang dijadikan JAMINAN KREDIT. Salah satu bentuk barang jaminan dari kredit yang diperoleh dari bank adalah persediaan. Jika ada persediaan yang dijaminkan, maka persediaan tersebut harus diungkapkan (di disclose) dalam Catatan atas Laporan Keuangan (Notes to Financial Statements)
7. Memeriksa kecukupan nilai pertanggungan persediaan yang diASURANSIkan. Persediaan harus diasuransikan, sehingga seandainya terjadi kebakaran, bisa diperoleh ganti rugi dari perusahaan asuransi dan perusahaan bisa terhindar dari kerugian karena kebakaran tersebut. Yang harus diperhatikan, adalah jika perusahaan mengasuransikan persediaan dengan INSURANCE COVERAGE yang terlalu besar, terutama dalam keadaan bisnis yang lesu, mungkin perusahaan bermaksud membakar persediaanya agar mendapat keuntungan dari ganti rugi perusahaan asuransi.
8. Mengetahui keberadaan perjanjian pembelian/penjualan persediaan (purchase/sales commitment) yang mempunyai pengaruh besar terhadap laporan keuangan. Jika ada maka harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Misalnya pada 24 November 2012, perusahaan menandatangani kontrak penjualan dengan salah satu pelanggannya untuk menjual 10.000 unit barang X dengan harga IDR 100.000 per unit, penyerahan barang akan dilakukan pada 13 Februari 2013. Ternyata di bulan Februari 2013 harga pasar barang X meningkat menjadi IDR 130.000. Karena sudah ada commitment, maka perusahaan mau tidak mau harus tetap menjual barang tersebut ke pelanggannya sebanyak 10.000 unit dengan harga sesuai kontrak, yaitu IDR 100.000 per unit.
9. Memeriksa kesesuaian penyajian persediaan dalam laporan keuangan dengan prinsip SAK.
Diberdayakan oleh Blogger.

